Opini

Anak IT Menjadi Penonton atau Pemain di “Third Wave” Era. (Bagian 1)

Anak IT Menjadi Penonton atau Pemain

Sebawa.com – Mengutip Alvin Toffler, seorang futurolog, dalam bukunya Third Wave menyatakan bahwa di Gelombang ketiga sangat berperan adalah Teknologi Informasi. Era gelombang ketiga disebut sebagai Revolusi Informasi. Munculnya teknologi digital mendorong perubahan di banyak sisi kehidupan manusia. Dalam tulisan ini tidak membahas gelombang ketiga tapi akan menyoroti bagaimana sikap kita dalam menghadapi perubahan tersebut. Selama ini bangsa Indonesia dapat dikatakan secara rata rata tertinggal dalam hal teknologi. Meski bermunculan sebagian yang berhasil membawa nama dan membuktikan keberhasilan secara global seperti prestasi di Olimpiade Sains, Juara di Kontes Kompetisi Keahlian, Penemuan penemuan teknologi, namun masih banyak masyarakat yang tertinggal dalam penggunaan maupun tertinggal dalam peran di teknologi.

Tentunya sangat miris melihat bermunculannya Sekolah sekolah di bidang teknologi informasi namun secara kualitas hasilnya belum mewarnai di Era Informasi tersebut. Kita coba melihat peran masyarakat IT dengan mengacu paparan dari Rhenald Kasali, seorang Guru Besar Universitas Indonesia, yang membagi tahapan  Gelombang Ketiga nya Alvin Toffler menjadi tiga tahapan juga. Ketiga tahapan tersebut bisa dinamakan Conectivity, Content dan Disruption. Tahapan pertama adalah munculnya semangat atau dorongan untuk membangun keterhubungan. Dimulai dengan munculnya teknologi jaringan komputer yang diikuti dengan akselerasi dalam konekstifitas tersebut. Akselerasi dalam hal kecepatan transmisi, kualitas transmisi, penurunan biaya dan semuanya mendorong kemudahan dalam komunikasi. Jarak bukan lagi penghalang untuk melihat seseorang, mengetahui kondisi ruangan dan lainnya.


Tahapan berikutnya adalah penekanan pada perkembangan konten. Hal ini didorong oleh keterhubungan yang sudah terbangun di tahapan sebelumnya. Salah satu tren yang muncul adalah berkembangya Media Sosial. Kemudahan berinteraksi, kemudahan mengirimkan informasi apapun bentuknya dalam format digital mendorong manusia untuk semakin intens berkomunikasi baik satu arah maupun dua arah. Kondisi ini juga mendorong perubahan di sisi budaya, seperti munculnya Narsis atau Selfie dan lainnya. Budaya tersebut juga mempengaruhi munculnya perangkat teknologi yang memanjakan hobi tersebut. Muncul juga tempat2 wisata yang berlomba menyediakan tempat berfoto.

Setelah kedua tahapan tersebut memberikan warna dalam kehidupan , sekarang sudah mulai muncul tahapan ketiga yaitu Disruption. Pertanyaannya adalah apa itu Disruption. Menurut Rhenald Kasali adalah membawa dari dunia sebenarnya ke dunia yang tidak kelihatan. Menurut Profesor dari Harvard Business School  dan disebut juga disruption guru Clayton Christensen disruption adalah membawa Pasar, Indsutri atau Teknologi yang ada menghasilkan sesuatu yang baru dan  membawa efisiensi dan manfaat ke masyarakat luas. Agak sulit untuk memahaminya, namun secara garis besar, disrupsi adalah sebuah inovasi yang memiliki pengaruh besar dan membawa perubahan di masyarakat. Sebagai contoh adalah munculnya sebuah kompetisi bisnis dengan lawan yang tidak kelihatan, misalnya bisnis transportasi yang menghadapai lawan yang tidak memiliki armada transportasi seperti munculnya UBER, GOJEK dan GRAB. Atau bisnis penginapan yang berhadapan dengan kompetitor yang tidak memiliki bangunan hotel atau rumah sewa seperti AirBnB atau AiryRoom. Itulah contoh contoh DISRUPTOR yang ada dan masih banyak lagi.

Itulah gambaran di Era Gelombang Ketiga nya Alvin Toffler. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana peran kita masyarakat Indonesia? Apakah menjadi penonton, menjadi konsumen saja , menjadi korban atau memiliki peran yang besar terhadap perubahan perubahan tersebut?




This Post Has 4 Comments

  1. yulianto Reply

    ini sindiran keras buat anak jurusan komputer nih, di web ini selalu menyuguhkan artikel berkualitas kagak salah gua selalu stalking

  2. Ahmad Taufan Bahari Reply

    mantap, aku sih ngikut aja bukan anak IT juga hehehe

  3. Nanda Reply

    Menjadi penikmat …

    Aku harus menjadi penikmat teknologi yang pandai 😀

  4. Afriza Muhamad Reply

    Aq juga bukan anak IT heheh 😀

Tinggalkan Balasan

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

%d blogger menyukai ini: