Sistem Operasi

Sistem Operasi Terdistribusi Part 3

Sebawa.com – Pastikan sudah membaca part sebelumnya yaitu Sistem Operasi Terdistribusi Part 1 dan Sistem Operasi Terdistribusi Part 2.

Manajemen Sistem pada Sistem Operasi Terdistribusi

Manajemen berkas

Sistem operasi terdistribusi memili sistem berkas yang dipetakan dengan baik pada objek dan kapabilitasnya. Kelas pengguna merasakan kesan abstrak ditimbulkan dari hal tersebut. Dan terdapat tingkatan yang ekstra dalam pemetaan berkas tersebut, muali dari simbol, kapabilitas dan pengurutan nama path. Dalam sistem ini, tidak ada perbedaan anatara objek lokal dan objek publik.


Tingkatan akses yang dimiliki dalam sistem ini mirip dengan UNIX, yaitu hak akses setiap user dan grup berbeda- beda pada setiap folder atau berkas yang terdapat dalam sistem operasi terdistribusi.  Sebagai contoh implementasi Amoeba di Belanda bahwa hak akses yang dimiliki pengguna terbatas pada hak untuk membaca, membuat dan menghapus file saja, sehingga keamanan server dapat terjaga dengan baik.

Dalam hal kemanan pun diterangkan bahwa pelayanan terhadap direktori sangatlah ketat, bahkan dibuat semcam kode randomuntuk sandi yang ditujukan agar file tidak mudah dibaca oleh sembarang user. Kode sandi tersebut akan kembali digunakan sistem untuk mengembalikan file seperti semula dan kode sandi tersebut hanya diberikan kepada pemilik file tersebut. Dalam hal ini, ketika user mengakses file bersangkutan, maka sistem akan membuat kode sandi agar pemilik file dapat mengetahuinya.

Tanggung jawab backup sistem pun dimiliki oleh pelayanan direktori yang membuat file selalu dalam keadaan yang aman dan kebal jika terjadi gangguan dalam sistem. Hal ini disebabkan karena cache dari file ini disimpan dalam sistem.

Manajemen proses

Tiap proses dalam sistem operasi terdistribusi berada dalam alamat segmen- segmen virtual, sehingga proses ini dapat memiliki lebih dari 1 hubungan. Keterkaitan yang terjadi dialokasikan ke berbagai prosesor hingga prosesor habis untuk digunakan.  dari manajemen proses demikian, maka menghasilkan utilasi yang lebih baik yang tidak pelu untuk melakukan switch ketika terdapat proses yang berat karena satu proses dialokasian pada satu prosesor. Dan untuk proses yang tidak memiliki tempat maka proses tersebut masuk kedalam antrian. Keterkaitan proses tersebut menggunakan semaphore untuk menunukan aktivitasnya.

Keunggulan lainnya adalah bahwa setiap proses memiliki kontrol tersendiri pada spasi alamatnya dan setiap proses mampu untuk melakukan penambahan dan penghapusan segmen dari spasi alamat virtualnya dengan melalui operasi pemetaan. Objek seperti file yang memiliki isi berupa kapabilitas dan pembacaan berupa kernel dan ketika proses diijinkan maka dapat untuk melakukan pemetaan dan penghapusan pemetaan segmen pada alamat virtualnya.

Ketika akan membangun sebuah proses maka deskripsi proses mengirimkan menuju kernel dan hal ini pada umumnya diketahui sebagai pengiriman permintaan untuk proses. Isi dari sebuah deskriptor proses berisi deskriptor host, pengamanan kapabilitas, jumlah segmen dan kapabilitas proses.

Jika bercicara mengenai tingkatan yang ada maka kapabilitas proses memiliki tingkatan yang tentunya lebih tinggi daripada proses dan hal inilah yang mengatur hal yang dapat dilakukan oleh proses atau oleh siapa proses tersebut dapat dilakukan. Hal tersebut sangat mirip dengan pengatur kapabilitas, namun hanya terjadi pada proses yang tidak normal. Dalam peta memori internal maka alamat proses pun diekapsulasi, sehingga dalam peta ini terdapat entri untuk setiap segmen dari alamat yang potensial. Entri tersebut memiliki isi berupa lamat virtual, pemetaan segmen, panjang segmen dan kapabilitas dari objek untuk diberi inisial.

Kaitan pemetaan yang mendeskripsikan atribut lain diantaranya adalahmendefinisikan inisial keadaan dari kaitan, program counter, status prosesor, stack base, program counter, keadaan pemanggil sistem dan nilai register. Hal tersebut dapat menginjinkan dieskriptor untuk digunakan dalam proses.

Proses yang terjadi memiliki dua macam kondisi yaitu sturned dan debugging. Stured atau proses yang sedang berjalan dapat terjadi apanila masih terdapat proses, namun jika tidak mengeksekusi apapun maka terjadi proses debug. Dalam keadaaan ini kernel dapat memberitahu kernel yang lain bahwa adanya proses yang memiliki keadaan sturned. Dan kernel yang lain pun berusaha untuk berkomunikasi dengan proses tersebut hingga proses dapat berjalan kembali. Migrasi dan debugging pada proses ini dapat selesai setelah adanya stunning.

Pembahasan ini dilanjutkan ke Sistem Operasi Terdistribusi Part 4






Article written by dianti rahayu

i am free

Tinggalkan Balasan

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

%d blogger menyukai ini: